Melacak Akar Fundamentalisme dan Terorisme

Pertama-tama saya hendak membuat catatan kecil terhadap tulisan salah seorang sarjana barat; Ricard T. Antoun, dalam bukunya berjudul “Memahami fundamentalisme” yang telah berkesimpulan bahwa di antara karakteristik fundamentalisme adalah skripturalisme; yaitu keyakinan harfiah terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan dan dianggap tanpa kesalahan.1 Statemen ini kemudian di-“amini” oleh Azyumardi Azra yang mengatakan bahwa muasal keyakinan fundamentalisme tersebut berangkat gagasan dasar yang menyatakan bahwa ajaran suatu agama harus dipegang teguh secara kokoh dalam bentuk literal dan bulat, tanpa kompromi, tanpa pelunakan, tanpa reinterpretasi, dan tanpa pengurangan sedikitpun.2

Oleh Kholilurrahman

Kata Kunci: Fundamentalisme, Skripturalime, Sharih, Muhkam, I’mal al-‘Aql, Hermeunetik (Takwil), Teks Zhahir, Mutasyabih, Terorisme, Takfir

Pendahuluan

Catatan saya terhadap tulisan di atas adalah sebagai berikut: “Terdahulu saya ingin meminjam istilah Imam Syafi’i yang berkata: “Qauli Shawab Yahtamil al-Khataha’, Wa Qaul Khashmi Khata’ Yahtamil ash-Shawab”. Ungkapan ini sangat cocok untuk saya pakai dalam mengomentari kesimpulan Ricard T. Antoun dan tulisan Azra di atas. Artinya, kesimpulan terkait dengan “fundamentalisme” tidak mutlak demikian, atau tegasnya dapat saya katakan: “Tulisan di atas ada benarnya, dan juga ada salahnya”.

Pertama; Benar, bahwa al-Qur’an adalah firman Allah yang tidak sedikitpun mengandung kesalahan, kita wajib berkeyakian demikian. Hanya saja bahwa di dalam al-Qur’an terdapat teks-teks yang telah jelas pemahamannya hingga tidak membutuhkan kepada reinterpretasi; yaitu yang disebut dengan teks sharih atau muhkam, namun juga di dalamnya terdapat teks-teks yang dalam memahaminya membutuhkan kepada pemberdayaan akal (I’mal al-‘Aql), misalkan dengan metodologi hermeunetik (takwil), atau dengan metode lainnya; yaitu yang disebut dengan teks zhahir atau mutasyabih. Pembagian muhkam dan mutasyabih atau sharih dan zhahir juga berlaku dalam teks-teks hadits Nabi. Dengan demikian cara memahami teks-teks syari’at tergantung kepada teks itu sendiri; apakah sharih atau zhahir? Jika teks-teks tersebut zhahir  atau mutasyabih maka cara memahaminya tidak sangat cenderung skripturalis atau literalis, juga tidak sangat cendrung bebas, tetapi dipertengahan antara keduanya, dan tentunya dengan memelihara kaedah-kaedah yang telah disepakati untuk itu.

Tentang fundamentalis, apakah benar pemahamannya identik dengan terorisme? Kata fundamental secara bahasa adalah sesuatu yang “bersifat dasar/pokok, mendasar, diambil dari akar kata “fundament” yang berarti dasar, asas, atau fondasi”. Dalam tinjauan bahasa ini maka istilah fundamental tidak mutlak memberikan makna negatif.  Bahkan dalam kerangka ini sudah seharusnya teks-teks syari’at untuk dipatuhi, dan kita berkewajiban menyesuaikan diri dengannya, bukan sebaliknya teks-teks tersebut harus tunduk di hadapan perkembangan masyarakat, atau tunduk terhadap apa yang ada pada keinginan dan akal kita. Artinya, jika pemahaman fundamental adalah keharusan memegang teguh prinsip-prinsip agama maka itu adalah sebuah keharusan, terlebih di zaman sekarang ini.

Sebagian pendapat yang mengatakan bahwa yang paling penting untuk kita diperjuangkan dan kita ditegakan adalah nilai-nilai semata, tanpa perlu memperhatikan “kulit luar” dari nilai-nilai tersebut adalah pendapat yang tidak proporsional. Tidak cukup bagi kita hanya mementingkan nilai-nilai semata; dengan sama sekali menyampingkan label, atau sebaliknya, juga tidak cukup dengan hanya mementingkan label dengan tidak mengindahkan nilai-nilai. Sebuah botol berisi air mineral misalkan, maka dengan “sikap fundamental” harus kita katakan dan harus kita beri label di luarnya sebagai air mineral. Tentu tidak benar jika kita tuliskan pada labelnya “Topi Miring”, “Bir”, atau lebel-lebel minuman memabukan lainnya. Pendekatan lainnya yang paling konkrit untuk masalah ini adalah pemahaman konsep iman dalam Islam; ialah bahwa tidak dianggap keimanan seseorang jika ia meletakan keimanan tersebut hanya di dalam hatinya saja, sementara lidahnya tidak mau mengakui keimanan tersebut, atau sebaliknya juga tidak cukup jika ia mengucapkan keimanan dengan lidahnya, sementara hatinya tidak mau mengakui keimanan tersebut.

Pemahaman dasar kata “fundamentalis” di atas jelas berbeda dengan kata “teroris”. Kata atau istilah yang terakhir ini sudah kita pastikan memiliki konotasi makna negatif. Bagi saya, penyebutan istilah fundamentalisme dan terorisme di dalam Islam adalah dua kutub yang sama sekali tidak memiliki relevansi. Bahkan penyebutan “Islam fundamental” adalah istilah yang sangat “mengaburkan”, setidaknya bagi penulis. Artinya, dua istilah ini harus kita dudukan makna-maknanya secara proporsional.

Kedua: Benar, saya setuju bahwa skripturalisme atau pemahaman literal terhadap teks-teks syari’at adalah salah satu penyebab dari cara beragama yang kaku, “keras kepala”, “jumud”, dan sikap yang sama sekali tidak memiliki kompromi. Tentunya yang dimaksud di sini terkait dengan teks-teks zhahir yang membutuhkan kepada takwil. Karena itu salah jika dikatakan bahwa Islam sama sekali tidak memberdayakan akal dalam memahami teks-teks syari’atnya. Oleh karena, sebagaimana telah saya ungkapkan di atas- bahwa ada di antara beberapa teks syari’at ada yang membutuhkan kepada penalaran akal. Adanya para ulama mujtahid yang telah mengambil intisari hukum dari teks-teks syari’at yang tidak sharih adalah bukti bahwa di dalam Islam akal memiliki ruang untuk diberdayakan.

Benar, pada dasarnya pembahasan semua yang terkait dengan ajaran Islam didasarkan kepada argumen-argumen atau dalil-dalil yang telah ditetapkan dalam Islam itu sendiri, bukan dibangun diatas dasar-dasar kebebasan berfikir. Di sinilah Yang membedakan antara para ulama Islam dengan kaum filsafat; bahwa dasar pemikiran filsafat tersebut dalam pembahasan tentang Tuhan, atau dalam masalah lainnya, hanya bersandarkan kepada pemandangan logika semata, artinya; mereka menjadikan akal sebagai pondasi utama bagi ajaran agama, dengan sama sekali tidak melakukan sinkronisasi antara logika dengan teks-teks yang dibawa oleh para Nabi. Sementara para ulama Islam dalam membicarakan masalah-masalah keyakinan tersebut tidak semata bersandar kepada akal, akan tetapi akal diposisikan sebagai saksi dan bukti akan kebenaran apa yang datang dari Allah dan yang dibawa oleh para Nabi tersebut. Dengan demikian para ulama Islam ini menjadikan akal sebagi bukti, tidak menjadikannya sebagai pondasi utama bagi ajaran agama.

Kita tidak menutup mata dari realitas perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam, yang bahkan oleh Rasulullah sendiri dalam haditsnya disebutkan bahwa umatnya ini terpecah belah hingga 73 golongan. Tentu banyak sebab yang menjadikan satu golongan dengan lainnya saling silang pendapat, atau bahkan di antara mereka saling menyesatkan. Salah satu sebab yang paling mendasar adalah “pemahaman terhadap teks-teks syari’at”. Kita tidak dapat memungkiri bahwa di antara teks-teks tersebut ada yang secara zhahir seakan memberikan pemahaman “terorisme”, “anthropomorpisme (faham Tasybih; keserupaan Tuhan dengan makhluk-Nya)”, “ketidakadilan”, dan lain sebaginya. Pertanyaannya; Benarkan skripturalisme pada puncaknya dapat menyebabkan terorisme?

Urgensitas Hermeneutik

Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Dia (Allah) yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu -wahai Muhammad-; dari al-Qur’an tersebut terdapat ayat-ayat muhkamat yang itu semua merupakan Umm al-Kitab, dan ayat-ayat lainnya adalah mutasyabihat. Mereka yang di dalam hatinya terdapat kesesatan; mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwil yang tidak benar. Dan tidaklah mengetahui akan takwil-takwil ayat tersebut kecuali Allah dan orang-orang yang kuat di dalam ilmu; mereka (yang kuat dalam ilmu tersebut) berkata: “Kami beriman dengan itu, semuanya adalah berasal dari Tuham kami”. Dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal” (QS. Ali ‘Imran: 7).

Dalam ayat ini Allah memberitakan kepada kita bahwa di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan Umm al-Kitab, artinya bahwa ayat-ayat muhkamat tersebut merupakan rujukan utama bagi al-Qur’an. Kemudian dalam al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat mutasyabihat yang untuk memahaminya adalah dengan mengembalikan kepada ayat-ayat muhkamat yang merupakan rujukan utama bagi al-Qur’an itu sendiri.

Ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang tidak mengandung makna takwil, artinya dalam tinjauan bahasa ayat-ayat muhkamat ini hanya mengandung satu makna saja. Atau dapat pula  kita katakan bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang telah diketahui makna tujuannya. Contohnya seperti firman Allah: “Dia Allah tidak menyerupai segala suatu apapun” (QS. asy-Syura: 11), juga firman Allah: “Dia Allah tidak ada suatu apapun yang menyerupainya” (QS. al-Ikhlash: 4), atau firman Allah: “Adakah engkau mengetahui adanya keserupaan bagi-Nya?! (Artinya tidak ada suatu apapun yang menyerupai Allah)”. (QS. Maryam: 65).

Adapun ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang belum jelas kandungan maknanya, atau ayat-ayat yang mengandung pemaknaan yang sangat banyak sekali, yang dalam memahaminya membutuhkan kepada pemikiran (I’mal al-‘Aql) sesuai dengan makna yang layak dan sesuai baginya, seperti firman Allah: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa” (QS. Thaha: 5).

Firman Allah: “Wa al-Raskhun Fi al-‘Ilm” dalam QS. Ali ‘Imran: 7 di atas kedudukannya dalam tata bahasa bisa jadi sebagai mubtada’ (awal pembicaraan), dapat pula ia sebagai ‘athf (bersambung) kepada kata “Allah” yang telah tersebut sebelumnya.

Dalam pengertian mubtada’ maka yang dimaksud dengan mutasyabih adalah perkara-perkara yang disembunyikan oleh Allah pengetahuannya atas semua makhluk; seperti peristiwa kapan terjadi kiamat, peristiwa keluarnya Dajjal, dan lain sebaginya. Perkara-perkara semacam ini tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah saja.

Kemudian jika yang dimaksud dalam pengertian ‘athf maka yang dimaksud dengan mutasyabih adalah ayat-ayat yang belum jelas kandungan maknanya, atau ayat-ayat yang secara bahasa mengandung pemaknaan yang banyak sekali dan membutuhkan kepada pemikiran dalam memahaminya sesuai dengan makna yang layak baginya, seperti firman Allah dalam QS. Thaha:5 tersebut di atas. Dengan demikian, menurut pendapat dalam pengertian ‘athf ini, maka orang-orang yang kuat dalam ilmu (ar-Rasikhun Fi al-‘Ilm) adalah orang-orang yang dikecualikan. Maka makna ayat tersebut ialah: ”Tidak ada yang mengetahui ayat-ayat mutasyabihat tersebut kecuali Allah dan orang-orang yang kuat dalam ilmu”. Pemahaman ini dikuatkan dengan adanya sebuah riwayat dari Imam Mujahid dari sahabat Abdullah ibn Abbas bahwa ia (Abdullah ibn Abbas) berkata: “Saya adalah termasuk orang-orang yang kuat dalam ilmu (Min ar-Rasikhin Fi al-‘Ilm)”.3

Salah seorang teolog Ahlussunnah terkemuka, Imam Abu Nashr al-Qusyairi dalam Risalah at-Tadzkirah asy-Syarqiyyah menuliskan sebagai berikut:

“Adapun firman Allah: “Wa Ma Ya’lamu Ta’wilahu Illallah…” (QS. Ali ‘Imran: 7), yang dimaksud dengan ayat ini adalah peristiwa kiamat. Karena beberapa orang musyrik datang kepada Rasulullah mereka bertanya tentang kapan kejadian kiamat tersebut. Dengan demikian yang dimaksud mutasyabih adalah tentang perkara-perkara yang gaib, di mana perkara-perkara itu semua tidak ada yang mengetahui kepastian kejadiannya kecuali Allah. Karena itu Allah berfirman: “Tidakah mereka (orang-orang musyrik) menunggu kecuali takwilnya, di hari akan datang takwilnya…” (QS al-‘Araf: 53), yang dimaksud ayat ini adalah bahwa orang-orang musyrik tersebut tidak menunggu suatu apapun kecuali menunggu peristiwa kiamat.

Karena bagaimana mungkin dikatakan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat hal-hal yang tidak dipahami kecuali oleh Allah saja. Bila demikian adanya maka sama saja dengan menghinakan kenabian, juga menghinakan Rasulullah; artinya sama saja dengan mengatakan bahwa Rasulullah tidak mengetahui makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’an tentang sifat-sifat Allah. Dan bila demikian adanya maka sama saja dengan mengatakan bahwa Rasulullah menyeru manusia kepada ketuhanan Allah yang ia sendiri tidak mengetahui sifat-sifat-Nya. Padahal bukankah Allah telah berfirman: “-al-Qur’an- dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. asy-Syu’ara: 195). Bila dikatakan bahwa Rasulullah tidak mengetahui kandungan al-Qur’an itu sendiri maka berarti firman Allah QS. asy-Syu’ara: 195 tersebut adalah bohong belaka. Bila Rasullah tidak mengetahui takwil-takwil al-Qur’an lantas di manakah kebenaran ayat QS. asy-Syu’ara: 195 ini? Padahal dengan sangat nyata disebutkan dalam ayat ini bahwa al-Qur’an mempergunakan bahasa Arab yang jelas, maka bagaimana mungkin bila kemudian seorang yang berasal Arab sendiri (dalam hal ini Rasulullah) tidak mengetahuinya? Oleh karena itu maka pendapat mereka yang mengatakan bahwa takwil al-Qur’an hanya diketahui oleh Allah saja adalah pendapat yang merupakan pendustaan terhadap Allah sendiri.

Kemudian, seperti yang sudah diketahui bahwa Rasulullah menyeru manusia untuk menyembah kepada Allah, artinya bila dalam apa yang beliau sampaikan terdapat hal-hal yang takwilnya hanya diketahui oleh Allah saja, sementara beliau tidak mengetahuinya, maka kaumnya akan berkata: “Terangkan terlebih dahulu siapakah yang engkau serukan untuk kami sembah? Apakah maksud dari perkara-perkara yang engkau katakan tersebut?”. Karena sesungguhnya keimanan terhadap sesuatu tidak akan pernah timbul, jika sesuatu tersebut tidak dikenal. Artinya, berpendapat bahwa Rasulullah menyeru manusia untuk menyembah sesuatu yang sifat-sifat sesuatu tersebut tidak dikenal adalah kebatilan yang nyata. Perkara semacam ini tidak akan pernah terbayang bagi seorang yang benar-benar muslim. Karena sesungguhnya tidak mengetahui sifat-sifat sesuatu mengharuskan adanya ketidaktahuan terhadap sesuatu itu sendiri.

Kesimpulannya, bahwa seorang yang memiliki akal sehat sedikit saja akan dapat menyimpulkan bahwa mereka yang berkata: “Istiwa’ adalah sifat Dzat Allah yang tidak diketahui maknanya, Yad adalah sifat Dzat Allah yang tidak diketahui maknanya, Qadam adalah sifat Dzat Allah yang tidak diketahui maknanya…”, adalah pernyataan yang menyesatkan yang dilatarbelakangi penetapan sifat-sifat benda (takyif) dan penetapan adanya keserupaan (tasybih) bagi Allah, juga pernyataan yang mengundang kepada kebodohan. (Artinya, hakekat orang yang berkata demikian adalah seorang Musyabbih; yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Dengan demikian menjadi jelas bagi seorang yang berakal bahwa pernyataan semacam itu adalah kesesatan belaka. Dan sebenarnya mereka yang mengingkari takwil; pengingkaran mereka hanya dalam masalah sifat-sifat Allah saja, sementara dalam beberapa ayat lainnya mereka juga mempergunakan metode takwil ini. Itu berarti mereka melakukan ini hanya didasari hawa nafsu belaka.4

Pada bagian lain dalam risalah yang sama al-Qusyairi membantah keras terhap kaum yang sangat anti terhadap takwil. Beliau berkata:

“Jika mereka benar-benar menolak segala macam bentuk takwil, maka berarti mereka telah menolak syari’at dan ilmu-ilmunya secara keseluruhan. Karena tidak ada teks apapun, walau hanya satu ayat saja atau sebuah hadits Nabi, kecuali semua itu membutuhkan kepada takwil dan pemikiran akal, kecuali pada ayat yang muhkam, seperti pada firman Allah: “Dia Allah pencipta segala sesuatu, dan Dia Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui”. (QS. al-An’am: 101). Karena memang sesungguhnya seluruh teks syari’at pasti membutuhkan kepada takwil, sebagaima hal tersebut telah disepakati oleh orang-orang yang berakal. Kecuali mereka orang-orang mulhid yang memendam kesesatan yang bertujuan menafikan syari’at; mereka berpendapat bahwa mempergunakan takwil sama saja dengan mengingkari teks-teks syari’at. Padahal justru merekalah yang sesat.

Kemudian jika mereka berkata: ”Takwil hanya boleh dipakai dalam beberapa teks syari’at, adapun pada sifat-sifat Allah tidak boleh dipakai”. Kita katakan kepada mereka: Berpendapat semacam ini berarti sama saja dengan mengatakan bahwa segala perkara yang tidak terkait dengan Allah wajib diketahui, sementara perkara yang terkait dengan Allah wajib dijauhi. Tentunya pendapat semacam ini tidak akan diterima oleh seorang muslim siapapun. Sebenarnya, mereka yang mengingkari takwil adalah orang-orang yang memendam keyakinan tasybih, hanya saja mereka sembunyikan keyakinan buruk tersebut dalam hati mereka, lalu untuk mengelabui orang-orang awam mereka berkata: “Allah punya tangan tapi tidak seperti tangan kita, Dia punya kaki tapi tidak seperti kaki kita, Dia besemayam dengan Dzat-Nya di atas arsy tapi tidak seperti yang seperti kita bayangkan…”. Seorang yang kritis dan teliti, akan mengatakan bahwa pernyataan semacam itu membutuhkan kepada penjelasan, bahwa mereka yang mengatakan: “Kita harus memberlakukan teks-teks tersebut sesuai makna zhahirnya, dan teks-teks tersebut tidak diketahui maknanya”, adalah pernyataan yang  saling bertentangan. Karena jika teks-teks mutasyabihat tersebut diberlakukan sesuai makna zhahirnya, maka makna zhahir dari kata “Saq” dalam firman Allah: ”Yauma Yuksyafu ‘An Saq” (QS. al-Qalam: 42), adalah betis; yaitu salah satu anggota badan yang tersusun dari kulit, daging, tulang, urat, dan sumsum. Jika makna zhahir anggota badan ini dipegang teguh dan diambil untuk memahami kandungan ayat QS. al-Qalam: 42 tersebut maka jelas itu adalah kekufuran. Dan jika makna zhahir anggota badan ini tidak diambil, lantas apakah kemudian pernyataan mereka: “Kita harus memberlakukan teks-teks mutasyabihat sesuai makna zhahirnya”! Bukankah mereka tahu bahwa Allah maha suci dari anggota zhahir semacam itu! Artinya, secara tidak sadar jika mereka tidak memberlakukan pengertian anggota badan tersebut maka sebenarnya mereka telah meninggalkan makna zhahir teks. Dengan demikian, mereka telah membatalkan pernyataan mereka sendiri bahwa kita harus mengambil makna-makna zhahir teks.

Kemudian jika musuh tersebut berkata: ”Makna-makna zhahir yang disebutkan dalam teks-teks mutasyabihat tersebut tidak memiliki makna”. Kita jawab: Jika demikian berarti teks-teks tersebut adalah kesia-siaan belaka, maka untuk apakah kemudian teks-teks tersebut disampaikan kepada kita jika tidak memiliki makna! Tentunya kesia-siaan teks semacam itu adalah sesuatu yang mustahil, karena dalam penggunaan bahasa Arab terdapat banyak kelonggaran dalam memahami sebuah teks, dan tentunya orang-orang Arab sendiri pasti dapat memahami suatu teks, baik tujuan maupun maksud-maksudnya. Dengan demikian, sebenarnya seorang yang anti terhadap takwil maka dia adalah orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa Arab, karena siapapun yang benar-benar paham bahasa Arab maka ia akan memiliki kemudahan untuk mengungkap kebenaran yang terkandung dalam teks-teks mutasyabihat tersebut.

Lebih dari pada itu semua, ada satu pendapat menyebutkan bahwa dalam firman Allah QS. Ali ‘Imran: 7 di atas dengan sangat jelas menyebutkan bahwa orang-orang yang kuat dalam ilmu (ar-Rasikhun Fi al-’Ilm) adalah orang-orang yang mengetahui takwil teks-teks mutasyabihat. Dan orang-orang yang kuat dalam ilmu ini adalah mereka yang berkata: “Kami beriman dengannya”. Karena sesungguhnya keimanan terhadap sesuatu hanya tumbuh setelah sesuatu tersebut diketahui secara pasti. Adapun terhadap sesuatu yang tidak diketahui maka keimanan kepadanya tidak akan pernah tumbuh. Dan karenanya sahabat Abdullah ibn Abbas berkata: “Saya adalah termasuk orang-orang yang kuat dalam ilmu”5

Dari tulisan Abu Nashr al-Qusyari ini menjadi jelas bagi kita bahwa mereka yang mengatakan takwil tidak boleh diberlakukan dalam teks-teks mutasyabihat adalah sebuah kesesatan dan kebodohan belaka. Pendapat ini jelas tertolak dengan sabda Rasulullah dalam doa beliau bagi sahabat Abdullah ibn Abbas, Rasulullah berkata: “Ya Allah ajarilah ia akan hikmah dan takwil al-Qur’an” (HR. Ibn Majah dan lainnya)5

Kemudian al-Hafizh Ibn al-Jawzi, salah seorang ahli fiqih terkemuka dalam madzhab Hanbali, sangat menentang keras pendapat mereka yang sangat anti terhadap takwil. Dalam karya beliau berjudul al-Majalis, dengan sangat panjang lebar Ibn al-Jawzi menyerang habis mereka, di antara yang beliau dituliskan adalah sebagai berikut:

“Bagaimana mungkin dikatakan bahwa ulama Salaf tidak memakai metode takwil, padahal telah jelas dalam riwayat yang shahih bahwa suatu ketika Rasulullah disediakan air wudlu baginya oleh sahabat Abdullah ibn Abbas, Rasulullah berkata: ”Siapakah yang telah melakukan ini?”. Ibn Abbas menjawab: ”Saya wahai Rasulullah”. Kemudian Rasulullah mendoakannya, berkata: ”Ya Allah berilah ia pemahaman akan ilmu agama dan ajarilah ia akan takwil”.

Doa Rasulullah ini tidak terlepas dari dua kemungkinan. Kemungkinan pertama; untuk mendoakan kebaikan bagi Ibn Abbas, atau kemungkinan kedua; untuk mendoakan keburukan baginya. Tentu anda harus mengatakan bahwa doa Rasulullah tersebut adalah demi kebaikan bagi Ibn Abbas, bukan keburukan. Seandainya takwil adalah sesuatu yang tercela maka berarti doa Rasulullah tersebut merupakan doa demi keburukan bagi Ibn Abbas. Kemudian dari pada itu saya katakan: Doa Rasulullah itu doa yang diterima (mustajab) atau tidak? Jika anda mengatakan bahwa doa Rasulullah adalah doa mustajab, maka berarti anda telah mengingkari pendapat anda sendiri dalam mengingkari takwil.

Dan dengan demikian menjadi terbantahkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa ulama Salaf tidak memakai metode takwil dalam memahami teks-teks mutasyabihat. Padahal Allah sendiri telah berfirman: ”Wa  Ma  Ya’lamu  Ta’wilahu  Illallah  Wa  ar-Rasikhuna  Fi  al-‘Ilm Yaquluna Amanna Bih” (QS. Ali ‘Imran: 7) “Dan tidaklah mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang kuat dalam ilmu; yaitu mereka yang mengatakan: Kami beriman dengannya”. Karenanya dalam al-Qur’an firman Allah: “Alif Lam Mim” (QS. al-Baqarah: 1), dalam salah salah satu takwilnya ialah:  ”Ana Allah A’lam” (Aku Allah yang lebih mengetahui). Lalu dengan ayat: “Kaf Ha Ya ‘Ain Shad” (QS. Maryam: 1) dalam salah satu takwilnya disebutkan: “Kaf dari kata al-Kafi (Yang Maha mencukupi), Ha dari kata al-Hadi (Maha Pemberi petunjuk), Ya dari kata al-Hakim (Yang Maha Bijaksana), ‘Ain dari kata al-’Alim (Yang Maha Mengetahi), Shad dari kata Shadiq (Yang Maha Benar). Dan berbagai takwil teks-teks mutasyabihat lainnya”7

Faedah Penting:

Dalam QS. Ali ‘Imran: 7 tersebut di atas terdapat dua bacaan. Pertama; dengan bacaan waqf (berhenti) pada Lafzh al-Jalalah “Allah” dan menjadikan kata “ar-Rasikhun” sebagai mubtada’ (Awal pembicaraan). Kedua; dengan menjadikan kata “ar-Rasikhun” sebagai ‘athf (bersambung) kepada Lafzh al-Jalalah “Allah”.

Dalam bacaan pertama; yaitu waqf pada Lafzh al-Jalalah “Allah” maka makna yang dimaksud adalah perkara-perkara yang gaib yang dirahasiahkan oleh Allah atas para makluk-Nya, seperti kapan terjadinya peristiwa kiamat dan lain sebagianya. Adapun dalam bacaan kedua; yaitu dengan menjadikan kata “ar-Rasikhun” sebagai ‘athf kepada Lafzh al-Jalalah “Allah” maka makna yang dimaksud adalah bahwa takwil dari ayat-ayat mutasyabihat selain diketahui oleh Allah, juga diketahui oleh orang-orang yang kuat dalam ilmu (ar-Rasikhun Fi al-‘Ilm). Dengan penjelasan ini maka kandungan QS. Ali ‘Imran: 7 di atas menjadi sangat jelas, dan menjadi hilang segala pemahaman yang rancu. Ini sebagai dalil kuat bahwa metode takwil tafshili adalah sebagai cara dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, seperti takwil kata “Ain” dalam firman Allah: ”Wa li Tushna’a ‘Ala ‘Aini” (QS. Thaha: 39), bahwa yang dimasud dengan kata “Ain” dalam ayat ini adalah “Pemeliharaan” (al-Hifzh).

Hermeneutika QS. al-Ma-idah Ayat 44

Ayat 44 dari QS. al-Ma-idah dimaksud adalah firman Allah: “Wa Man Lam Yahkum Bima Anzallah Fa Ula-ika Hum al-Kafirun”. Ayat ini oleh beberapa komunitas yang mengaku sebagai gerakan keislaman seringkali dipakai untuk mengklaim takfir terhadap orang-orang yang tidak memakai hukum Allah, termasuk klaim takfir terhadap orang yang hidup dalam suatu negara yang tidak memakai hukum Islam, sekaligus klaim mereka bahwa negara tersebut sebagai negara kafir (Dar al-Harb/Dar al-Kufr). Klaim ini termasuk di antaranya mereka sematkan kepada negara Indonesia.

Sayyid Qutub dalam karyanya “Fi Zhilal al-Qur’an” menyatakan bahwa masa sekarang tidak ada lagi orang Islam yang hidup di dunia ini, karena tidak ada satupun negara yang memakai hukum Allah. Menurutnya suatu negara yang tidak memakai hukum Allah walaupun dalam masalah sepele maka pemerintahan negara tersebut dan rakyat yang ada di dalamnya adalah orang-orang kafir. Kondisi semacam ini—menurut Sayyid Qutub—tak ubah seperti kehidupan masa jahiliyah dahulu sebelum kedatangan Islam. Pernyataan Sayyid Qutub ini banyak terulang dalam karyanya berjudul Fi Zhilal al-Qur’an.8

Para ahli tafsir mengatakan bahwa ayat QS. Al-Mai-dah: 44 di atas tidak boleh dipahami secara literal. Artinya; tidak boleh dipahami bahwa siapapun yang tidak memakai hukum Allah maka dia adalah seorang yang kafir, telah keluar dari Islam. Pemahaman literal semacam ini akan menghasilkan sikap bumerang. Karena siapapun, komunitas apapun, institusi apapun, dan bahkan negara apapun, -terlebih di masa sekarang ini-, tidak ada yang telah benar-benar murni memberlakukan hukum Allah. Bahkan, bukankah setiap orang yang melakukan dosa artinya ia tidak memberlakukan hukum Allah? Lalu siapakah manusia yang tidak pernah melakukan dosa?

Sesungguhnya dasar keyakinan yang telah disepakati bersama oleh para ulama dari masa ke masa adalah bahwa seorang muslim siapapun dia, -kecuali para Nabi dalam masalah ajaran agama-, pasti akan jatuh dalam dosa dan maksiat, baik dosa kecil maupun dosa besar. Ini artinya, ketika ia melakukan dosa-dosa tersebut sebenarnya ia tidak melaksanakan dan menyalahi hukum Allah. Lalu apakah hanya karena berbuat dosa, -bahkan bila dosa tersebut dalam kategori dosa kecil-, ia harus dihukumi sebagai orang kafir dengan alasan tidak memakai hukum Allah?! Bila demikian maka berarti semenjak dimulainya sejarah kehidupan manusia tidak ada seorangpun yang beragama Islam, sebab siapapun manusianya pasti memiliki dosa dan telah berbuat maksiat kepada Allah.

Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya dalam menjelaskan QS. al-Ma-idah: 44 di atas mengatakan bahwa ayat ini mengandung makna takwil sebagaimana telah dinyatakan oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan sahabat al-Bara ibn Azib. Al-Qurthubi menuliskan sebagai berikut:

“Seluruh ayat ini (ayat 44, 45 dan 46) turun tentang mereka orang-orang kafir (Yahudi), sebagaimana hal tersebut telah dijelaskan dalam Shahih Muslim dari hadits sahabat al-Bara ibn Azib. Adapun seorang muslim, walaupun ia melakukan dosa besar –selama ia tidak menghalalkannya–, maka ia tetap dihukumi sebagai orang Islam, dan tidak menjadi kafir.

Menurut pendapat lainnya; dalam ayat di atas terdapat makna tersembunyi (Izhmar), yang dimaksud ialah: ”Barangsiapa tidak memakai hukum Allah, karena menolak al-Qur’an dan mengingkarinya, maka ia digolongkan sebagai orang-orang kafir”, sebagaimana hal ini telah dinyatakan dari Rasulullah oleh Abdullah ibn Abbas dan Mujahid. Inilah yang dimaksud dengan ayat tersebut”9

Selain pendapat Abdullah ibn Abbas dan al-Bara ibn Azib yang telah dituliskan oleh al-Qurthubi di atas terdapat pendapat lain dari para ulama, di antaranya pernyataan sahabat Abdullah ibn Mas’ud dan Imam al-Hasan yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berlaku umum, baik orang-orang Islam, orang-orang Yahudi, maupun orang-orang kafir, dalam pengertian bahwa siapapun yang tidak memakai hukum Allah dengan menyakini bahwa perbuatan tersebut adalah sesuatu yang halal maka ia telah menjadi kafir. Adapun seorang muslim yang berbuat dosa atau tidak memakai hukum Allah, -masih dalam pendapat Abdullah ibn Mas’ud dan Imam al-Hasan-, selama masih tetap berkeyakinan bahwa hal tersebut suatu dosa yang haram dikerjakan maka ia digolongkan sebagai muslim yang fasik; tidak kafir. Dan orang tersebut berada di bawah kehendak Allah, antara diampuni dosanya tersebut atau tidak diampuninya.10

Pendapat lainnya, dari Imam asy-Sya’bi menyebutkan bahwa pembicaraan ayat di atas khusus tentang orang-orang Yahudi. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Imam al-Nahhas. Alasan pendapat ini menyebutkan bahwa pada permulaan ayat tersebut secara sharih yang dibicarakan adalah orang-orang Yahudi, yaitu firman Allah; “Lilladzin Hadu…”, dengan demikian kata ganti (dlamir) yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang Yahudi. Alasan lainnya, masih dalam pendapat Imam asy-Sya’bi dan Imam an-Nahhas, ialah bahwa pada ayat sesudahnya, yaitu ayat ke 45, firman Allah; “Wa Katabna ‘Alayhim…”, kata ganti (dlamir) ”dalam kalimat ”’Alayhim” pada ayat 45 ini telah disepakati oleh para ahli tafsir bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. Artinya, dengan demikian sangat jelas bahwa antara ayat 44 dan 45 memiliki korelasi kuat bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. Pemahaman adanya kolerasi kedua ayat tersebut sebagaimana dipahami dalam ’Ilm Munasabah al-Ayat.11

Selain pendapat di atas, diriwayatkan pula bahwa sahabat Hudzayfah ibn al-Yaman ditanya tentang ayat ini, apakah yang dimaksud ayat ini adalah Bani Isra’il?, beliau menjawab; “Benar, semuanya turun tentang Bani Isra’il”.

Sementara menurut Imam Thawus bahwa yang dimaksud ”kufur” dalam ayat tersebut bukan dalam makna kufur keluar dari Islam, tapi yang dimaksud ”kufur” disini adalah dosa besar. Pemahaman ini berbeda dengan apa bila seseorang membuat hukum dari dirinya sendiri kemudian ia meyakini bahwa hukum buatannya tersebut adalah sebagai hukum Allah atau lebih baik dari pada hukum Allah, maka orang semacam ini telah jatuh dalam kufur yang mengeluarkannya dari Islam. Oleh karenanya Imam al-Qusyairi berkata bahwa pendapat yang mengatakan bahwa orang yang tidak memakai hukum Allah maka ia telah menjadi kafir adalah pendapat kaum Khawarij.12

Apa yang telah ditulis oleh Imam al-Qurthubi di atas juga telah dikutip oleh al-Khazin dalam kitab tafsirnya yang dikenal dengan Tafsir al-Khazin. Di antara yang dituliskan oleh al-Khazin adalah sebagai berikut:

”Tentang tiga ayat tersebut, Mujahid berkata: ”Barangsiapa meninggalkan hukum Allah karena membangkang terhadap al-Qur’an (hukum-hukum-Nya) maka dia adalah seorang yang telah kafir, zhalim dan fasik”.

Sementara Ikrimah berkata: ”Barangsiapa tidak memakai hukum Allah karena mengingkarinya maka dia adalah seorang yang kafir. Adapun seorang yang tetap mengakui hukum Allah, namun dia tidak memakainya maka dia tetap seorang mukmin tetapi seorang mukmin yang zhalim dan fasik”. Pendapat ini juga merupakan pendapat Ibn Abbas.

Sementara Thawus berkata: ”Aku pernah bertanya kepada Ibn Abbas: “Apakah seorang yang tidak memakai hukum Allah telah menjadi kafir?” Beliau menjawab: “Ia telah berbuat kufur, tetapi ”kufur” yang tidak mengeluarkannya dari Islam, (Artinya ia telah berbuat dosa besar), tidak seperti kufur mereka yang kafir kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir”.

Pemahaman ini juga sama persis telah diriwayatkan dari Atha, ia berkata: ”Makna ”kufur” di sini bukan makna kufur keluar dari Islam “13

Kemudian dalam kitab al-Mustadrak, Imam al-Hakim meriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn Abbas yang telah menjelaskan tiga ayat dari surat al-Ma’idah (ayat 44, 45 dan 46), bahwa ia (Ibn Abbas) berkata: “Yang dimaksud kata ”kufur” dalam ayat tersebut bukan seperti yang dipahami oleh mereka (kaum Khawarij); kufur di sini bukan dalam pengertian keluar dari Islam. Makna firman Allah: “Wa Man Lam Yahkum Bima Anzallah Fa Ula-ika Hum al-Kafirun”, adalah dalam pengertian bahwa hal tersebut adalah merupakan dosa besar”14

Pengertian dosa besar karena tidak memakai hukum Allah seperti dosa kufur adalah dalam pengertian keburukannya, bukan dalam pengertian telah keluar dari Islam. Pemahaman semacam ini seperti makna sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi: ”Sibab al-Muslim Fusuk Wa Qitaluh Kufr”. Makna literal hadits ini ialah; ”Mencaci-maki muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya atau memeranginya adalah perbuatan “kufur”. (HR. Ahmad). Makna literal ini tentu bukan makna yang dimaksud oleh hadits tersebut. Sebab pembunuhan sesama muslim sudah terjadi sejak dahulu, bahkan pembunuhan tersebut ada yang terjadi karena dibenarkan sesuai perintah syari’at, seperti hukum qisas, hukum bunuh terhadap pelaku zina muhshan, dan lainnya.

Oleh karena itu, peperangan atau saling bunuh sesama orang Islam sudah terjadi dari semenjak masa sahabat dahulu, misalkan antara kelompok sahabat Ali ibn Abi Thalib yang bertikai dengan kelompok Mu’awiyah, dan kejadian semacam ini terus berlanjut hingga sekarang. Orang-orang mukmin yang terlibat peperangan tersebut hingga saling bunuh antara mereka sendiri tidak kemudian bahwa mereka semua telah menjadi kafir. Siapa yang berani mengkafirkan sahabat Ali ibn Abi Thalib dan beberapa orang sahabat lainnya yang berada di kelompok beliau yang mereka telah mendapatkan jaminan masuk surga dari Rasulullah?!

Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Wa In Tha’ifatani Min al-Mu’mininaqtatalu…” (QS. Al-Hujurat: 9). Dalam ayat ini Allah menyebut dua kelompok orang-orang mukmin yang saling berperang tetap sebagai orang-orang mukmin.

Wa Allahu A’lamBi ash-Shawab

CATATAN KAKI:

  1. Ricard T. Antoun, Memahami Fundamentalisme, Terj. Muhammad Shodiq, Surabaya, Pustaka Eureka, 2003, h. 41
  2. Azyumardi Azra, Fenomena Fundamentalisme dalam Islam, Ulumul Qur’an. No. 3, Vol. IV, 1993, h. 18-19
  3. Ad-Durr al-Mantsur, j. 2, h. 152, Zad al-Masir, j. 1, h. 354
  4. Lihat  al-Zabidi dalam Ithaf al-Sadah al-Muttaqin j. 2, h. 110
  5. Ibid.
  6. Sebagaimana telah ditakhrij oleh Ibn Majah dalam kitab Sunan pada Muqaddimah-nya dalam penjelasan keutamaan sahabat Abdullah ibn Abbas.
  7. Kitab al-Majalis, h. 13
  8. Lihat misalkan  j. 2, h. 590, dan h. 898/ j. 2, Juz 6, h. 898/ j. 2, h. 1057/ j. 2, h. 1077/ j. 2, h. 841/ j. 2, h. 972/ j. 2, h. 1018/ j. 4, h. 1945 dan dalam beberapa tempat lainnya. Juga pernyataan ini ia sebutkan dalam karyanya yang lain, seperti Ma’alim Fi ath-Thariq, h. 5-6/ h. 17-18. Ini adalah salah satu akar teologis dan politis dari perkembangan gerakan radikal di beberapa negara timur tengah. Padahal negara Mesir, yang merupakan basis awal gerakan al-Ikhwan al-Muslimun, belakangan menolak keras kelompok yang dianggap ekstrim ini bahkan memenjarakan orang-orang yang terlibat di dalamnya.  Faham Sayyid Quthub di atas kemudian dijadikan “ajaran dasar” oleh banyak gerakan, seperti Syabab Muhammad, Jama’ah al-Takfir Wa al-Hijrah, Jama’ah al-Jihad, al-Jama’ah al-Islamiyyah dan banyak lainnya. Muara semua gerakan tersebut adalah menggulingkan kekuasan setempat dan mengklaim mereka sebagai orang-orang kafir dengan alasan tidak memakai hukum Islam. Lebih luas baca dengan data yang cukup valid; A. Maftuh Abegebriel, A. Yani Abeveiro, dan SR-Ins Team dalam Negara Tuhan; The Thematic Incyclopaedia, h. 459-555.
  9. Lihat al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 190

10.  Ibid.

11.  Ibid.

12.  Ibid. Kelompok Khawarij terbagi kepada beberapa golongan sub sekte. Salah satunya sekte bernama al-Baihasiyyah. Kelompok ini menyatakan bahwa siapa yang tidak memakai hukum Allah walaupun dalam masalah kecil maka ia telah menjadi kafir, keluar dari Islam. Sebagian ulama mengatakan bahwa Sayyid Quthub dianggap sebagai orang yang menghidupkan kembali sekte al-Baihasiyyah ini.

13.  Tafsir al-Khazin, j. 1, h. 467-468

14.  Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihayn, j. 2, h. 313. Hadits shahih sebagaimana disepakati oleh adz-Dzahabi

 

DAFTAR PUSTAKA

Abegebriel, A. Maftuh,  et.al dalam Negara Tuhan; The Thematic Incyclopaedia, Jogjakarta

Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihayn, Dar al-Fikr, Bairut

Al-Jawzi, Ibn,  Zad al-Masir, Dar al-Fikr, Bairut

Al-Khazin, Tafsir al-Khazin, Dar al-Fikr, Bairut

Al-Qurthbi, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Dar al-Fikr, Bairut

Antoun, Ricard T, Memahami Fundamentalisme, Terj. Muhammad Shodiq, Surabaya, Pustaka Eureka, 2003,

As-Suyuthi, Jalaluddin, Ad-Durr al-Mantsur, Dar al-Fikr, Bairut.

__________________, Kitab al-Majalis, Dar al-Fikr, Bairut.

Azra, Azyumardi, Fenomena Fundamentalisme dalam Islam, Ulumul Qur’an. No. 3, Vol. IV, 1993,

Az-Zabidi, Murtadla, Ithaf al-Sadah al-MuttaqinBi Syarh Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Dar al-Fikr, Beirut.

Profil:

H. Kholilurrahman, Lc, MA Penulis adalah Dosen PNS yang diperbantukan di STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah, menyelesaikan S2 Tafsir Hadits di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, ia juga Kandidat Doktor pada bidang yang sama di UIN Jakarta.

Comments are closed.