Sejarah

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) “AL-AQIDAH AL-HASYIMIYYAH” Jakarta merupakan sebuah perguruan tinggi Agama Islam yang berada dalam naungan Yayasan Da’wah Syiarul Islam (YADA’I) yang didirikan pada 12 Februari 1978. Oleh KH. M. Hasjim Adnan, seorang ulama besar karismatik di Jakarta.

KH. M. Hasjim Adnan (Pendiri Kampus Al-Aqidah)

sampai tahun 2014, STAI “AL-AQIDAH AL-HASYIMIYYAH” Jakarta, telah berhasil mencetak lebih dari Ribuan Alumni yang bertebaran di dalam dan luar negeri, berkiprah dan berprestasi dalam berbagai instansi pemerintah dan swasta. Pengabdian dan dedikasi selama 36 tahun tersebut, dapat menjadi modal dasar untuk selalu eksis mengembangkan mahasiswanya dalam mencapai prestasi unggul dan berkualitas tinggi dalam bidang agama.

Pemberdayaan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik merupakan tugas yang berkesinambungan. Perwujudan rasa tanggungjawab dan dakwah terhadap kemaslahatan hidup masyarakat terutama dalam bidang pendidikan harus dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Termasuk salah satu komponen pendidikan yang ikut bertanggungjawab terhadap pencerahan umat. Sejak kelahirannya yang waktu itu bernama Akademi Ilmu Dakwah atau disingkat AKIDAH dengan direktur pertamanya Drs. H. Ibrahim AR, terus mengalami metamorfosa, seiring dengan tuntutan zaman.

Dies Natalis III dan Wisuda Pertama Akademi Ilmu Da’wah (AKIDAH) di Aula Masjid Sunda Kelapa Jakarta. Tampak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur, pertama dari Kiri) dan KH. M. Hasjim Adnan, BA (dua dari kiri), beserta civitas akademika Kampus AKIDAH.

Al Aqidah di bawah naungan Yayasan Dakwah Syi’arul Islam (YADA’I) yang juga membawahi beberapa unit pendidikan dan pelayanan sosial lainnya, di antaranya Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bhakti Nusantara, Masjid Jami’ Al-Muntaha, Klinik Al-Muntaha, TPA Al-Hasyimiyyah, TK Khoirunnisa’, dan lain-lain. Semua unit ini hanya didedikasikan untuk pelayanan umat yang sangat membutuhkan secara nirlaba (non-profit oriented).

Sejak lahir hingga dewasa ini keberadaan AKIDAH telah mengalami pasang surut. Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan, pada tahun 1980 Akademi Ilmu Dakwah (AKIDAH) berubah menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah (PTID) Al-Aqidah dengan Rektor pertamanya adalah Prof. KH. Saefudin Zuhri (mantan Menteri Agama RI/tokoh NU).

Pada tahun 1985 karena alasan kesehatan, Prof. KH. Saefudin Zuhri digantikan oleh KH Abdurahman Wahid (mantan Presiden RI IV) atau akrab dipanggil Gus Dur. Di bawah kepimpinan Gus Dur, Al-Aqidah mengalami perubahan-perubahan. Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah berubah menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTIA) Al-Aqidah. Fakultas Dakwah diubah menjadi Fakultas Ushuludin.

KH. Abdurrahman Wahid/Gus Dur (Mantan Presiden RI/KH. Abdurrahman Wahid (Rektor Al-Aqidah Periode 1985-1989)

Fakultas Tarbiyah dibuka dan kemudian meningkatkan status Al-Aqidah menjadi Perguruan Tinggi Islam Al Aqidah dengan surat keputusan dari Departemen Agama Republik Indonesia nomor Kep/E/PP.009/340/38. Seiring meningkatnya kemampuan Al-Aqidah untuk meluluskan sarjana secara mandiri, statusnya meningkat menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al-Aqidah.

Kemudian pada tahun 2000 terjadi perubahan yang cukup signifikan dengan SK Mendiknas IAI Al-Aqidah terakreditasi dengan No. 006/BAN PT/AK-IV/V/2000 dan No. 021/BAN PT/AK-IV/VIII/2000 hingga menelurkan program S 1 dengan tiga fakultas, program Diploma, dan program Pasca Sarjana (S 2). Adapun rincian program tersebut adalah: Fakultas Tarbiyah terdiri dari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI); Fakultas Syariah terdiri dari jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah (AS); Fakultas Dakwah terdiri dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI); dan program Pasca Sarjana (S 2) dengan Program Studi Kajian Keislaman konsentrasi pada Pemikiran Politik Islam.

Kemudian mulai Tahun Akademik 2009-2010, STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta juga membuka Ma’had Aly (Pesantren Mahasiswa). Ma’had Aly juga melakukan kerjasama dengan Kementerian Agama RI, Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang Kemenang RI DKI Jakarta), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, tahun 2009 kampus Al-Aqidah melakukan pembenahan dan juga penyesuaian dengan kebijakan Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional yang menyatakan — kampus yang hanya memiliki tiga program studi, statusnya menjadi Sekolah Tinggi, sedangkan untuk Institut dipersyaratkan memiliki minimal enam program studi. Dengan keterbatasan yang dimiliki kampus Al-Aqidah, maka dilakukan penyesuaian dan perubahan, semula kampus bernama Institut Agama Islam Al-Aqidah berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah.

Alhamdulillah pada tanggal 27 Oktober 2011, Prodi Pendidikan Agama Islam, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan Prodi Ahwal Al-Syakhshiyyah (Hukum Islam) STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah mendapat perpanjangan izin baru  dari Diretur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Islam.

Alhamdulillah Program Studi Pendidikan Agama Islam pada tanggal 29 Desember 2011 mendapat Peringkat Akreditasi “B” dalam SK BAN-PT Nomor: 047/BAN-PT/Ak-XIV/S1/XII/2011.

Sertifikat Akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam

Alhamdulillah Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam pada tanggal 3 Oktober 2013 mendapat Peringkat Akreditasi “C” dalam SK BAN-PT Nomor: 203/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/X/2013.

Sertifikat Akreditasi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

Sertifikat Akreditasi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

Alhamdulillah Program Studi Pendidikan Agama Islam pada tanggal 20 Juli 2013 mendapat Peringkat Akreditasi “B” dalam SK BAN-PT Nomor: 157/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/VII/2013.

Sertifikat Akreditasi Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah

Sertifikat Akreditasi Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah

 

Dengan kondisi ini cukupkah? Jawabannya tidak. Melalui kebijakan yayasan dan sivitas akademika Kampus Al Aqidah telah mencanangkan untuk menjadi institusi yang berprestasi dan berprestise. Yang dimaksud dengan institusi yang berprestasi dan berprestise adalah institusi yang menjadi wadah pencerahan intelektual menuju insan kamil sebagai pencapaian akhir dari cita-cita manusia di dunia ini, dengan tujuan ini diharapkan STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah menjadi kampus yang unggul dalam segala bidang.

Saat ini STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta didukung oleh sarana dan prasarana seperti: Infra struktur Al-Aqidah yang berdiri di atas tanah seluas 2.046 m2, di atas tanah ini pula berdiri Sekolah Menengah Pertama dan  Gedung Kampus berlantai tiga yang nyaman dengan sebagian ruang kuliah menggunakan pendingin udara (AC); Asrama Mahasiswa, Masjid Jami Al-Muntaha sebagai tempat ibadah dan sebagai sarana untuk mengaktualisasikan pengetahuan mahasiswa di bidang dakwah dan komunikasi massa.

Perpustakaan dengan koleksi buku cukup lengkap, baik yang berbahasa Indonesia, Arab maupun Inggris; Laboratorium Bahasa sumbangan Departemen Agama RI sejumlah 40 unit;

Ruang Pertemuan (Auditorium) dengan kapasitas 300 orang.

Prof. Dr. Yusron Razaq (Wakor Kopertais Wilayah 1 DKI Jakarta), saat menjadi Narasumber dalam acara Stadium General, di Auditorium Kampus Al-Aqidah

Ruang Parkir yang dapat memuat 30 mobil.

STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta memang masih minim fasilitasnya, namun kekurangan ini tidak membuat perkuliahan terganggu, meskipun demikian sivitas akademika STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta terus berusaha dan mengupayakan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Hal tersebut membuktikan bahwa STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta benar-benar serius dan konsisten dalam rangka mempersiapkan prasyarat, sarana, dan prasarana yang menunjang perwujudan menjadi institusi wadah pencerahan intelektual menuju insan kamil.